Thank you, 2017

2017 adalah tahun yang super duper mengesankan, baik dari sisi hepinya jg sisi sedihnya. Dimulai awal taun yang gue inget adalah betapa terkesimanya gue mendapatkan kurikulum matkul Filsafat Resolusi Konflik / Philosophy of Conflict Resolution (Phcr) di jurusan gue, di kampus yang notabene semi militer dan kynya jauh banget dari menara gading filsafat. Keterkesimaan ngga berhenti disitu, lebih ngenanya lagi adalah ketika di minggu ketiga kelas Phcr, kelas gue kedatangan seorang dosen yang menurut gue mentereng. Masi muda, cerdas bgt bgt, adorable, penggiat fenomenologi (skripsi kami sama2 bahas Edmund Husserl, ya terus?). Usut punya usut ternyata doi salah satu alumni terbaik STF Driyarkara Jakarta. Gue yang alumni filsafat juga, telaklah semakin excited setiap kelas Phcr dimulai.  Beruntungnya gue berkesempatan kenal lebih lanjut sm doi, bbrp kali ketemuan jalan-ngobrol-makan-ngopi bedua sampe bego cape ngantuk tengah malem. Semoga tahun depan lebih sering lg kita hengot ya Mas! Dan ga wacana doang tiap janjian wkwkwk

Keceriaan di 2017 juga gue inget bgt tentang KKN. Iya, di kampus gue program KKN tuh wajib dan msk itungan SKS. KKN nya kebagi 2, yakni dalam negeri dan luar negeri. Dalam negerinya gue kebagian KKN di kota Cilegon, Banten. Sedangkan luarnya gue dikirim semingguan lebih ke Bangkok, Thailand.

Di KKN itu banyak kegiatannya, mulai dari penelitian (ketika di Cilegon gue jd panitia inti dan gue tumbang sakit ketika hari H di sana), pengabdian masyarakat, hingga part yang seru juga yakni jalan-jalan. Nah kalo jalan-jalan, gue impressed bgt sih jalan2 di Bangkok sama rombongan sirkus kelas yang isinya PNS, TNI, dan sesama temen2 mhsw sipil yang gokil abis. Even sekelas itu kan ada 29 orang ya, dan ga mungkin jalan2nya barengan 29 kepala. Tapi alhamdulillah gue menghabiskan waktu di tanah nongpoy bersama dg beberapa teman yang seru abis.. Beberapa malam kami dilalui dengan setumpuk ketawaan receh, membayar lelah kami setelah dari pagi sampe sore keliling ke berbagai instansi pemerintahan Thailand. Malem2 kami hunting pijet repleksi, belanja oleh-oleh sampe tokonya tutup, menerobos hujan memesan Uber yang membingungkan karena mapsnya hurup tailen semua, trus naik Tuktuk, bolak balik jajan di sepel sama Tama alias Tami  si anak galau dari Lampung; dan Irvan (yang sekarang lg pendidikan perwira AL haha selamat ya pance), trus ditraktir duren monthong oleh my bespren Letkol Samsul, nawar daster di Asiatik sama politisi muda berdarah Batak bernama Arnold Andreas Nababan (ini satu orang kok, bukan tiga), trus ada juga Nuy yang seminggu jd bedmate gue di hotel, dan masi banyak lagi kisahnya.

Di Cilegon yang berasa bgt sih hectic penelitiannya, tapi disitulah gue beneran berasa turun lapangan bgt neliti suatu topik. Gue belajar juga untuk koordinasi dengan banyak pihak, mulai dari ngurus perizinan ke belasan stakeholder dan pejabat Cilegon, trus manage ini itu, nyiapin ini itu, ngehubungin si ini dan si itu. Fyi kelas gue neliti fenomena tenaga kerja asing dan gesekan konfliknya dg warga lokal Cilegon. Gue kenyang bgt sm gersangnya Cilegon, trus mobile2 ke Disnaker sono, mendalami PNS nya, berjuang nyari Kepala Kesbangpol setempat, mengupayakan narasumber kesana kemari, hingga masuk perkampungan dan wawancara warga setempat di tengah kebon, di atas gelaran tiker dan dihiasi kokok ayam berlarian. Hahaha.

2017 juga isinya love life dan seneng-seneng mulai dari jadian sm Reja, lalu somehow banyak drama, sehingga berujung pada relasi gue dan Reja yang berantakannya bukan lagi di ujung tanduk, tapi sampe di titik kami berdua mengeluarkan tanduk di kepala. Brantem nangis2, putus lalu balikan lalu putus lagi lalu balikan lagi, trus gitu lagi fasenya berulang. Yha..

2017 awal hingga tengah tahun tentunya diwarnai daily life sebagai anak mess Unhan, dikarantina di atas bukit Sentul, susah kemana-mana, susah nyari transport (karena gue kuliah ga bawa kendaraan), apel pagi yang berat bgt buat gue pribadi, trus haha hihi sama anak2 cewe satu blok mess, curhat, door to door gossiping, menikmati mati listrik dan mati air yang sangat sering melanda mess (macem di perbatasan aja yak) dan dua bocah yang 24/7 mewarnai bangun hingga tidurnya gue di satu flat 307 mess Unhan yakni Mesa (energy security program) dan Rida (defense diplomacy program).

Kemudian 2017 yang berlabel sok sibuk ini gue cuma bisa pulang sekali yakni di akhir bulan puasa-jelang idul fitri. Ketika itu pas bgt gue ulangtaun ke 23 di tanggal 23 Juni. Seseneng itu bgt waktu gue dijemput di bandara oleh mama, papa, dan Dina yang bawain gue balon happy bday segede gaban, trus malemnya kami makan di sebuah kedai pizza. Seneng bgt bs ngumpul karena sejarang itu banget family time lengkap berempat. Masa liburan usai, gue pun balik terbang ke Jakarta krn harus selesaikan kuliah.

Di tengah hingga akhir tahun masa karantina pendidikan gue selesai, gue dipersilakan keluar mess untuk mengerjakan tesis. Gue memutuskan ngekos di Depok, dg pertimbangan titik tengah antara Sentul-Bogor, dan Jakarta yang merupakan spreading sheet location penelitian tesis gue. Juga karena Depok punya endapan memori karena 4 tahun s1 gue habiskan di sana. Ketika postingan ini ditulis, tesis gue pun masi on going. Doakan bisa rampung tepat waktu di akhir Januari 2018 ya! Aamiin YRA

Di Depok ini gue belajar untuk survive sendiri, krn udah kelar pendidikan dan istilahnya dibebasin gitu lah. Tapi gue jd punya tanggung jawab sendiri untuk kelarin tesis. Dan ternyata untuk konsisten semangat ngerjain itu susah bgt.. Huf. Di kala penat tesis melanda. wkt awal ngekos gue random dateng ke Synchronize Fest 2017, 3 hari di Jakarta which is hampir semua band indie manggung disono. Yah lumayan lah ,untuk melipur lara akibat tesis yang menghantui hari-hariku.. Nahloh.


Overall 2017 memberi banyak makna dan pelajaran, semoga 2018 jauh lebih baik dan cerah lagi ya. I wish!

Harap

Semoga simpul senyum itu bukan milikku sendiri, tetapi milikmu juga.

Di Balik Tren Nikah Muda

Musim Nikah Muda
Sebagai pengguna daily socmed kit (Twitter, Facebook, Instagram), belakangan ini gue disodorkan dengan tren nikah muda. Tren ini tercetak sebagai reality, yang dalam hitungan menit membanjiri mata setiap hari. I repeat, literally setiap hari. Ngga cuma di hari H nikahnya aja loh. Exposurenya tuh banyak pasangan muda yang ngunggah segala tahap hubungan mereka. Mulai dari upload jejerin pasfoto buat ke KUA, tunangan lamaran, prewed photo session, sampe bridal showernya tuh jadi flowery bgt di laman medsos. Masih muda, terus udah berani komitmen ke a very big deal yaitu pernikahan.

Menurut gue menarik sih. Fitur like, comment, dan share sukses memotret betapa happeningnya nikah muda ini. Oh iya, kategori muda gue define dalam kisaran umur 20-25 tahun. Semakin gue membuka medsos tiap hari, semakin gue bertanya-tanya: ini anak muda pada kenapa sih cepet amat nikahnya? Terlebih ketika banyak akun dakwah pop, yang terkesan melegitimasi nikah muda sebagai ibadah. Inti pesan yang dibawa adalah, bahwa nikah muda itu bentuk hijrah dan menjauhi dosa. Anak muda kan rawan zina tuh, nah mending disahkan aja secara agama. Banyak dalil dan quote pendukung juga. Saking gue penasaran, gue sampe follow tuh akun-akun. Nah ternyata, lewat atmosfer yang kebentuk lewat akun-akun tersebut, jadilah banyak pasangan muda turut berkontribusi meningkatkan fenomena nikah muda.

Kontribusi itu mutlak semarak dalam arus medsos. Upload ini itu printilan dan simbolik bride to be, pake istilah ‘pasangan halal’ dsb. Istilah yang mengganjal sih, emang selama ini lo tuh haram? Emangnya miras dan narkoba? Haha, gue kadang-kadang wondering seiseng gitu.

Hiperreal
Anyway, gue coba nyisihin semua prasangka itu dan coba liat lagi ke tren nikah mudanya. Kalo ditelisik, ini tuh sebenernya impact doang dari masifnya penggunaan medsos. Mencetak sesuatu menjadi produk khas kekinian, utamanya sekarang nikah muda. Pertanyaannya, apa iya begitu? Padahal kalo gue inget-inget, dari jaman baheula pun kakek nenek kita banyak yang nikah muda kan? Udah gitu beranak-pinak, banyak pula. Kemudian, era ‘modernisasi’ membalik semua itu dengan alasan yang diasumsikan lebih logis dan maju. Mulai dari disiplin ilmu biologi, sosiologi, ekonomi, psikologi, semua merasionalisasi itu dengan banyak eksplanasi dan rekomendasi. Semuanya, senada ingin meningkatkan kualifikasi pernikahan beberapa degree lebih tinggi. Lha' terus kok lucunya sekarang malah balik lagi, ke era tidak dipermasalahkannya kuantifikasi umur?

Hiperreal kok, asli deh. Dalam opini gue, umur muda can be clearly said tetep jadi potensi masalah. Boomingnya nikah muda dalam deras medsos ini sukses menutup semua reasoning dan complicatednya pasangan muda. Impresi yang dicetak kan, di era sekarang banyak pasangan muda yang lebih mature jika dicompare dengan pasangan muda jaman dulu. Padahal, ngga kayak gitu. Yang namanya masih muda, kalo belom stabil secara objektif mulai dari pendidikan, karier, finansial, sampe psikologis. Sampe hal subjektif kayak komitmen, kesiapan, dan seterusnya. Ya ancur lah, mestinya belom ideal tuh nikah muda. Tetep prematur lah.

Di balik framing foto dan video pasangan muda unyu-unyu, kita ngga pernah tau gimana pusingnya mereka mikirin dana katering, gedung, dll. Apakah harus ngutang bank? Atau harus ngandelin finansial calon mertua, modal nyali aja buat nikah muda? Kita juga ngga tau seberapa jauh relasinya sama keluarga besar, karena nikah itu kan menghubungkan dua keluarga juga. Atau parahnya, jangan-jangan supaya bebas dari zina doang? Oke silakan bilang gue suuzon, tapi emang seperti itu. Walaupun di beberapa kasus mungkin ada juga exceptional thing kayak udah pacaran dari SD/SMP (hahaha buset!), atau misal keluarga masing-masing udah sayang bgt, ortu udah minta cucu, ortu ngasih nasihat jangan berduaan terus nanti jadi fitnah, ortu udah mapan dan tua jadi pengen cepet nikahin anak, dll..

Kita sebagai pengonsumsi hiperrealitas medsos, ngga akan pernah tau alasan mendasar yang jujur dan rasional kenapa banyak pasangan muda secepat itu menikah, selain caption manis dan kecocokan atas nama cinta yang dipublish. Caption itulah yang kita dapet, ketanem di benak, dan kalau sreg ya bisa kita duplikasi dengan pola yang sama. Sama-sama berani nikah muda, sama-sama upload segala macem, dan ikutan publish indahnya Halalan Thoyyiban (iya persis tagline sebuah resto ayam bakar itu).

Pelik
Buat gue, cinta doang tentu ngga cukup ketika lo ingin beranjak ke jenjang pernikahan. Atau variabel turunannya kayak: cocok, sayang banget, udah ngga mau cari yang lain (apa iya begitu? Gue sih skeptis). Klisenya sih persoalan komitmen dan menghargai seseorang di luar diri lo, di luar garis darah lo; sebagai satu-satunya orang yang lo puja, lo sayang, lo kasihi seumur hidup --tanpa ada yang lain. Tanpa lo menyakiti orang itu dalam bentuk apapun itu, baik fisik dan mental. Itu aja tahap advanced lho.

Lebih jauh, nikah adalah persoalan kompleks. Kasarnya ya milih satu tandeman problem seumur hidup. Nikah itu bukan soal pemuasan biologis dan afeksi doang, tapi juga memuat pemuasan selfishness. Persoalan dengan siapa lo mau melanjutkan keturunan, mencetak bibit unggul yang pastinya jauh lebih baik dari lo sendiri. Ya dari aspek fisik jelas itu, pengen punya keluarga yang cakep-cakep. Tapi buat gue lebih sexy dan penting aspek otak serta humanity dari keturunan gue nantinya. Persoalan membuat kehidupan yang lebih baik. Persoalan eksistensi lo sebagai manusia lah intinya.

Jelas dong poinnya ngga sebatas menghindari berdua dari maksiat, atau membawa dua insan menjadi lebih bijak (padahal pas pacaran tolol bukan main, pribadi pun banyak cacatnya, banyak belum dewasanya, banyak curang sama pasangan pokoknya masih monyet bgt lah).

Menurut gue, pendewasaan ya bukan saat kita menikah! Tapi jauh sebelum kita menikah. Mulai dari lo pacaran sama orang lain, atau cukup kok denger cerita-cerita pasangan lainnya. Sehingga, nikah itu adalah official happiness gate buat mereka yang udah dewasa as a whole. Bukan cuma gede badan atau nominal rekening doang. Bukan perkara diurusin dan ngurusin seseorang doang, nafkahin lahir batin. Ngga sesederhana itu.. Furthermore, nikah juga pilihan keberanian psikologis, bahwa lo merasa sudah cukup secure dengan psyche pasangan. Mulai dari tingkat emosinya, kesabarannya, dan kemampuan dia menghandle masalah keseharian. Itu bukan hal yang mudah, utamanya generally di umur masih muda.

Lo boleh suka sama orang sampe bego, dalam kacamata kuda bahkan dalam blind condition. Atas excuse apapun itu, kayak “siapa lagi yang bisa secocok ini” atau “sesayang ini sama gue”. Tapi percaya deh, itu kekuatan semu yang akan menyesatkan lo, ketika hanya itu amunisi dan alasan lo untuk menikah muda. Iya semu....... Selamanya, bahkan sampe lo bangkotan. Dan ngga tahu akan apa yang terjadi setelah nikah nantinya.

Sebagai cewek umur 23 tahun, gue amat sangat picky dan mempertimbangkan hal-hal tadi. Atas dasar inilah, otomatis gue belum ada di titik akan menikah muda. Kecuali gue kayak mbak Kahiyang kali ya (anak RI 1 trus dilamar anak pengusaha ternama yang somehow oke gitu). Lol, just joking biar ga dikira sarkas bgt tulisannya!

Apapun kerumitan yang menurut gue melekat dalam keputusan nikah muda. Ya salut sih buat banyak pasangan yang nikah muda, kalian hebat. Gue acungi jempol. At least kalian udah melampaui semua kepusingan gue 10 langkah, dengan keberanian menjalani itu.. instead of lebih banyak memikirkannya.