Harap

Semoga simpul senyum itu bukan milikku sendiri, tetapi milikmu juga.

Di Balik Tren Nikah Muda

Musim Nikah Muda
Sebagai pengguna daily socmed kit (Twitter, Facebook, Instagram), belakangan ini gue disodorkan dengan tren nikah muda. Tren ini tercetak sebagai reality, yang dalam hitungan menit membanjiri mata setiap hari. I repeat, literally setiap hari. Ngga cuma di hari H nikahnya aja loh. Exposurenya tuh banyak pasangan muda yang ngunggah segala tahap hubungan mereka. Mulai dari upload jejerin pasfoto buat ke KUA, tunangan lamaran, prewed photo session, sampe bridal showernya tuh jadi flowery bgt di laman medsos. Masih muda, terus udah berani komitmen ke a very big deal yaitu pernikahan.

Menurut gue menarik sih. Fitur like, comment, dan share sukses memotret betapa happeningnya nikah muda ini. Oh iya, kategori muda gue define dalam kisaran umur 20-25 tahun. Semakin gue membuka medsos tiap hari, semakin gue bertanya-tanya: ini anak muda pada kenapa sih cepet amat nikahnya? Terlebih ketika banyak akun dakwah pop, yang terkesan melegitimasi nikah muda sebagai ibadah. Inti pesan yang dibawa adalah, bahwa nikah muda itu bentuk hijrah dan menjauhi dosa. Anak muda kan rawan zina tuh, nah mending disahkan aja secara agama. Banyak dalil dan quote pendukung juga. Saking gue penasaran, gue sampe follow tuh akun-akun. Nah ternyata, lewat atmosfer yang kebentuk lewat akun-akun tersebut, jadilah banyak pasangan muda turut berkontribusi meningkatkan fenomena nikah muda.

Kontribusi itu mutlak semarak dalam arus medsos. Upload ini itu printilan dan simbolik bride to be, pake istilah ‘pasangan halal’ dsb. Istilah yang mengganjal sih, emang selama ini lo tuh haram? Emangnya miras dan narkoba? Haha, gue kadang-kadang wondering seiseng gitu.

Hiperreal
Anyway, gue coba nyisihin semua prasangka itu dan coba liat lagi ke tren nikah mudanya. Kalo ditelisik, ini tuh sebenernya impact doang dari masifnya penggunaan medsos. Mencetak sesuatu menjadi produk khas kekinian, utamanya sekarang nikah muda. Pertanyaannya, apa iya begitu? Padahal kalo gue inget-inget, dari jaman baheula pun kakek nenek kita banyak yang nikah muda kan? Udah gitu beranak-pinak, banyak pula. Kemudian, era ‘modernisasi’ membalik semua itu dengan alasan yang diasumsikan lebih logis dan maju. Mulai dari disiplin ilmu biologi, sosiologi, ekonomi, psikologi, semua merasionalisasi itu dengan banyak eksplanasi dan rekomendasi. Semuanya, senada ingin meningkatkan kualifikasi pernikahan beberapa degree lebih tinggi. Lha' terus kok lucunya sekarang malah balik lagi, ke era tidak dipermasalahkannya kuantifikasi umur?

Hiperreal kok, asli deh. Dalam opini gue, umur muda can be clearly said tetep jadi potensi masalah. Boomingnya nikah muda dalam deras medsos ini sukses menutup semua reasoning dan complicatednya pasangan muda. Impresi yang dicetak kan, di era sekarang banyak pasangan muda yang lebih mature jika dicompare dengan pasangan muda jaman dulu. Padahal, ngga kayak gitu. Yang namanya masih muda, kalo belom stabil secara objektif mulai dari pendidikan, karier, finansial, sampe psikologis. Sampe hal subjektif kayak komitmen, kesiapan, dan seterusnya. Ya ancur lah, mestinya belom ideal tuh nikah muda. Tetep prematur lah.

Di balik framing foto dan video pasangan muda unyu-unyu, kita ngga pernah tau gimana pusingnya mereka mikirin dana katering, gedung, dll. Apakah harus ngutang bank? Atau harus ngandelin finansial calon mertua, modal nyali aja buat nikah muda? Kita juga ngga tau seberapa jauh relasinya sama keluarga besar, karena nikah itu kan menghubungkan dua keluarga juga. Atau parahnya, jangan-jangan supaya bebas dari zina doang? Oke silakan bilang gue suuzon, tapi emang seperti itu. Walaupun di beberapa kasus mungkin ada juga exceptional thing kayak udah pacaran dari SD/SMP (hahaha buset!), atau misal keluarga masing-masing udah sayang bgt, ortu udah minta cucu, ortu ngasih nasihat jangan berduaan terus nanti jadi fitnah, ortu udah mapan dan tua jadi pengen cepet nikahin anak, dll..

Kita sebagai pengonsumsi hiperrealitas medsos, ngga akan pernah tau alasan mendasar yang jujur dan rasional kenapa banyak pasangan muda secepat itu menikah, selain caption manis dan kecocokan atas nama cinta yang dipublish. Caption itulah yang kita dapet, ketanem di benak, dan kalau sreg ya bisa kita duplikasi dengan pola yang sama. Sama-sama berani nikah muda, sama-sama upload segala macem, dan ikutan publish indahnya Halalan Thoyyiban (iya persis tagline sebuah resto ayam bakar itu).

Pelik
Buat gue, cinta doang tentu ngga cukup ketika lo ingin beranjak ke jenjang pernikahan. Atau variabel turunannya kayak: cocok, sayang banget, udah ngga mau cari yang lain (apa iya begitu? Gue sih skeptis). Klisenya sih persoalan komitmen dan menghargai seseorang di luar diri lo, di luar garis darah lo; sebagai satu-satunya orang yang lo puja, lo sayang, lo kasihi seumur hidup --tanpa ada yang lain. Tanpa lo menyakiti orang itu dalam bentuk apapun itu, baik fisik dan mental. Itu aja tahap advanced lho.

Lebih jauh, nikah adalah persoalan kompleks. Kasarnya ya milih satu tandeman problem seumur hidup. Nikah itu bukan soal pemuasan biologis dan afeksi doang, tapi juga memuat pemuasan selfishness. Persoalan dengan siapa lo mau melanjutkan keturunan, mencetak bibit unggul yang pastinya jauh lebih baik dari lo sendiri. Ya dari aspek fisik jelas itu, pengen punya keluarga yang cakep-cakep. Tapi buat gue lebih sexy dan penting aspek otak serta humanity dari keturunan gue nantinya. Persoalan membuat kehidupan yang lebih baik. Persoalan eksistensi lo sebagai manusia lah intinya.

Jelas dong poinnya ngga sebatas menghindari berdua dari maksiat, atau membawa dua insan menjadi lebih bijak (padahal pas pacaran tolol bukan main, pribadi pun banyak cacatnya, banyak belum dewasanya, banyak curang sama pasangan pokoknya masih monyet bgt lah).

Menurut gue, pendewasaan ya bukan saat kita menikah! Tapi jauh sebelum kita menikah. Mulai dari lo pacaran sama orang lain, atau cukup kok denger cerita-cerita pasangan lainnya. Sehingga, nikah itu adalah official happiness gate buat mereka yang udah dewasa as a whole. Bukan cuma gede badan atau nominal rekening doang. Bukan perkara diurusin dan ngurusin seseorang doang, nafkahin lahir batin. Ngga sesederhana itu.. Furthermore, nikah juga pilihan keberanian psikologis, bahwa lo merasa sudah cukup secure dengan psyche pasangan. Mulai dari tingkat emosinya, kesabarannya, dan kemampuan dia menghandle masalah keseharian. Itu bukan hal yang mudah, utamanya generally di umur masih muda.

Lo boleh suka sama orang sampe bego, dalam kacamata kuda bahkan dalam blind condition. Atas excuse apapun itu, kayak “siapa lagi yang bisa secocok ini” atau “sesayang ini sama gue”. Tapi percaya deh, itu kekuatan semu yang akan menyesatkan lo, ketika hanya itu amunisi dan alasan lo untuk menikah muda. Iya semu....... Selamanya, bahkan sampe lo bangkotan. Dan ngga tahu akan apa yang terjadi setelah nikah nantinya.

Sebagai cewek umur 23 tahun, gue amat sangat picky dan mempertimbangkan hal-hal tadi. Atas dasar inilah, otomatis gue belum ada di titik akan menikah muda. Kecuali gue kayak mbak Kahiyang kali ya (anak RI 1 trus dilamar anak pengusaha ternama yang somehow oke gitu). Lol, just joking biar ga dikira sarkas bgt tulisannya!

Apapun kerumitan yang menurut gue melekat dalam keputusan nikah muda. Ya salut sih buat banyak pasangan yang nikah muda, kalian hebat. Gue acungi jempol. At least kalian udah melampaui semua kepusingan gue 10 langkah, dengan keberanian menjalani itu.. instead of lebih banyak memikirkannya.


Whisper

I need to know what's on your mind,
when we met and talked for hours.