Absolutely True

Faith and intentionality are the cure of every mistaken coincidences.

170617

Selamat Ulang Tahun, Papa

Lima puluh delapan tahun yang lalu, kau dipersilahkan Tuhan untuk memasuki chapter hidupmu: R. Widjaya Hadi. Melalui rahim ibumu. Ibumu yang hanya sempat kukenal hingga aku kelas 6 SD. Ibu yang baik, tulus, sabar, dan penyayang. Tidak pernah marah, katamu.

Lima puluh delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan keseharian kuyakini akan selalu menjadi hikmah untukmu. Hikmah yang juga kau ajarkan kepadaku, ibuku, dan adikku.

Sepertinya baru kemarin aku melihatmu, sosok Bapak yang tampan, yang menjemputku kala bel sekolah tiba. Lalu membelikan es krim Mc Donalds setiap pulang.

Sosok yang mendidikku keras, ya -secara harfiah dengan keras, memarahiku ketika aku tidak bisa mengerjakan PR Matematika. Lalu menyobek sejumlah buku cetak dan buku catatanku di atas meja. Menggebrak meja, agar aku tahu betapa perihnya kebodohan dapat menyiksa.

Sosok keras yang dahulu sejak ku kecil hingga remaja, banyak adu mulut denganku, kurasa juga dengan ibuku dengan adikku. Namun aku tahu ia sungguh sayang padaku. Dengan percakapan setiap malam yang tidak pernah terlupa, ditutup dengan selalu mengingatkanku untuk shalat, juga berdoa pada Allah agar dibawa ke derajat yang lebih baik.

Sosok yang semakin kurindukan sejak umur delapan belas, di kala umur itu menjadi fase hidup yang membuatku harus terpisah tinggal sendiri. Tidak di rumah bersamanya, bersama ibuku, dan bersama adikku.

Lima tahun berlalu sejak fase itu, lima tahun berinteraksi denganmu melalui perjumpaan yang jarang. Lima tahun ini yang menurutku sangat amat mendewasakan.

Lima tahun belakangan, aku tersadar. Aku selalu mengucap selamat ulang tahun untukmu via telepon. Dengan nanar dan menahan air mata haru, aku selalu mendoakanmu, memohon agar Allah selalu menjagamu, membimbingmu, memberi engkau keselamatan.

Dua puluh tiga tahun yang telah kujalani ini sungguh membuatku yakin, aku bangga menjadi anakmu. Walau kini aku belum bisa banyak membanggakanmu. Namun aku senang, kala mendengarmu amat bahagia melihat setidaknya sedikit hasil baik akademisku, juga pencapaian adikku, dan proses pendewasaan kami yang semakin bijaksana -insya Allah.

Selamat ulang tahun, Papa. Semoga Allah senantiasa melindungimu, melimpahkan rahmat kasih sayang tiada putus, seperti aku yang tiada putus mendoakanmu.

Munajat

Semoga deras hujan di bulan Juni, bulan yang amat kukasihi ini, dapat meluruhkan segala luka. Membingkai ingat dengan tepat. Lalu menyimpannya dalam ruang-ruang berimbang. Memanjangkan ketabahan. Memulihkan kesadaran untuk kembali berjalan. Menyanding harapan dengan kesempatan. Amin.